Heboh Kades di Serang Banten Gagal Lunasi 16 Sapi Kurban, Rumah Jadi Jaminan!

Heboh Kades di Serang Banten Gagal Lunasi 16 Sapi Kurban, Rumah Jadi Jaminan!

Tangerang Network, Serang - Di tengah euforia persiapan Idul Adha 2025, publik dibuat tercengang dengan munculnya kasus seorang Kepala Desa (Kades) di Serang, Banten, yang belum juga melunasi hutang pembelian 16 ekor sapi kurban sejak tahun lalu. Sosok yang jadi sorotan ini bernama Edo Saefudin, Kades aktif Desa Mander, Kecamatan Bandung, Kabupaten Serang, Banten.

Kasus ini mencuat ke permukaan setelah viralnya sebuah video menyayat hati yang memperlihatkan seorang peternak dari Nusa Tenggara Barat (NTB) menangis karena merasa ditipu oleh sang Kades. Dalam video itu, ia menagih Hutang pembelian 16 ekor sapi yang total nilainya mencapai Rp290 juta. Sayangnya, hingga saat ini, baru dibayar uang muka sebesar Rp20 juta.

Transaksi Gagal Bayar: Kronologi Hutang 16 Ekor Sapi

Pada awalnya, kesepakatan bisnis ini tampak berjalan lancar. Pembelian dilakukan pada tahun 2024 menjelang Idul Adha, dengan komitmen pembayaran seminggu setelah lebaran. Namun, janji tinggal janji. Kades Edo berdalih dirinya tertipu oleh rekan bisnis yang membuatnya kehilangan modal dan tidak mampu menutupi sisa pembayaran.

Yang bikin makin bikin geram, hingga setahun lebih berselang, Hutang tersebut tak kunjung dilunasi. Situasi ini menciptakan polemik hebat dan kecaman publik setelah videonya diunggah oleh akun Instagram @dhemit_is_back01 pada 4 Juni 2025.

Jaminan Rumah dan Tanah: Jalan Tengah atau Alasan?

Menariknya, Edo tak tinggal diam begitu saja. Dalam surat pernyataan bermaterai yang beredar, ia berjanji melunasi Hutang paling lambat akhir Agustus 2024. Untuk meyakinkan peternak, ia bahkan memberikan jaminan berupa sertifikat AJB atas tanah dan bangunan seluas 950 meter persegi.

Lebih lanjut, Edo mempersilakan rumahnya dijual jika ia tak kunjung membayar. Namun, ada satu syarat: harga jual rumah tersebut harus dinegosiasikan terlebih dahulu dengan dirinya. Sikap ini memicu tanda tanya besar. Apakah ini bentuk tanggung jawab atau upaya mengulur waktu?

Perangkat Desa Angkat Bicara: Benarkah Kades Tak Terlibat Langsung?

Setelah video tersebut viral, Staf Desa Mander bernama Hedi buka suara. Ia membenarkan bahwa memang benar sang Kades sedang menghadapi persoalan Hutang sapi. Bahkan, penjual sapi sempat mendatangi rumah Kades Edo, namun tidak berhasil bertemu karena yang bersangkutan sedang tidak berada di tempat.

Hedi juga menyebut bahwa Edo masih aktif menjalankan tugasnya sebagai Kades dan tetap hadir dalam kegiatan di tingkat desa maupun kecamatan. Ia menekankan bahwa komunikasi antara kedua belah pihak pernah terjadi, meski tak tahu secara rinci isinya. Ini menunjukkan bahwa permasalahan ini bukan sekadar kabar burung.

Pengakuan Jujur Kades Edo: Tertipu dan Tak Makan

Edo Saefudin secara gamblang mengakui bahwa dirinya belum bisa melunasi Hutang pembelian sapi. Ia menegaskan bahwa kasus ini murni persoalan bisnis pribadi yang tidak ada hubungannya dengan jabatannya sebagai kepala desa.

“Usaha saya bangkrut karena ditipu orang. Sapi-sapi yang saya jual nggak laku dan malah buntung. Saya bahkan sempat nggak makan,” ujar Edo dengan nada getir.

Ia juga menyebut bahwa sudah lama tidak berkomunikasi dengan peternak NTB, namun masih memiliki itikad baik dengan mencicil Hutang tersebut secara bertahap jika ada uang.